Sabtu, 31 Oktober 2009

another late post... tugas2 lengkap hehe


Wew, maaf atas segala keterlambatan apdet ini.hehe.

Jujur saja, belakangan ini sangat dilanda keterpurukan, baik dalam hal spirit maupun fisik..bukan alas an sih sebenernya, namun cukup berpengaruh pada “api” yang saya pertahankan selama ini..hehehe

Tugas kedua adalah outdoor media, billboard lebih tepatnya…

Pada brief, kita diberi tugas untuk memilih salah satu produk consumer goods kuadaran ¾

Produk Kuadaran ¾ yaitu produk2 dng tujuan pembentuk kebiasaan dan pemenuhan keinginan..

Contoh kuadaran3 : sabun, shampoo, dll

Contoh kuadaran 4 : rokok, minuman, parfum, dll

Kami diharuskan untuk menganalisa produk tersebut baik eksistingnya, insight pengguna, dan competitor

Dan inilah produk yang saya pilih..


Emeron shampoo

Mengapa emeron shampoo?

Menurut saya sangat unik, karena emeron shampoo merupakan brand shampoo local yang bermain sendiri di kelasnya, dalam hal ini adalah “harga”, harga Emeron relative murah dibandingkan dengan shampoo2 wanita yang lain, mungkin malah bisa dikatakan sangat murah. Namun dengan harga yang murah itu bukan membuat para konsumen semakin percaya terhadap produk ini, namun cenderung underrated..sangat disayangkan karena sebagian besar dari responden saya, 95% diantaranya tidak pernah mencoba shampoo emeron namun memiliki persepsi tersendiri yang cenderung negative terhadap emeron. Yah, namun memang tak pelak lagi, ada yang bilang, “buat anak kok coba2”..hehe, kita tidak bisa memaksakan suatu produk shampoo apabila seseorang sudah cocok dengan shampoonya yang sekarang. Oh well, lalu saya hunting emeron di toko2 terdekat untuk memastikan sendiri harganya dan bagaimana produk ini diletakkan..











Ternyata memang sangat murah, silahkan dilihat sendiri perbandingan harganya dengan shampoo lain. Dan Emeron biasanya diletakkan bersebelahan dengan Zinc, yang notabene dari produsen yang sama yaitu LION, namun Zinc lebih berkonsentrasi pada masalah ketombe. Warna-warni yang cukup menarik lumayan memberikan impact pada mata kita, tetapi kurang melambangkan system grafis yang sama jika dibandingkan dengan rejoice. Saya juga menemukan packaging emeron yang belum ter’update’ namun tetap dipajang di rak.. sungguh merupakan sesuatu yang tragis.


Pada saat libur lebaran, saya penasaran dan mencoba produk ini untuk saya sendiri, yang saya beli pada waktu itu adalah emeron smooth& straight berwarna ungu, dengan packaging yang belum update. 2-3 kali pemakaian langsung saya hentikan, ternyata saya tidak cocok terhadap shampoo ini. Hahaha.

Lalu saya putuskan untuk menjaring insight dari para pengguna emeron, dan yang saya temukan adalah sebagian besar dari mereka memilih emeron hitam. Sebagian besar dari mereka sepakat bahwa emeron hitam (black&shine) merupakan varian yang paling baik diantara varian lainnya. Karen itulah, saya memutuskan untuk memilih fokus pada varian ini untuk di eksekusi. Berikut adalah hasil dari brainstorming saya terhadap Emeron Black & Shine…

Dari Brainstorming tersebut saya akhirnya dapat mengambil What to Say dan How to Say dari Iklan Billboard yang akan saya buat…

WTS?

“Menyuburkan &menghitamkan rambut sehingga tampak indah dan bercahaya”

HTS?

· Legenda masyarakat Indonesia yang dimodifikasi: Jaka Tarub & Nawang Wulan

(Nawang Wulan tak berani pulang ke khayangan karena shampoo emeronnya di curi, Ia malu jika rambutnya tak bisa lagi hitam dan berkilau(

· Dongeng dunia yang dimodifikasi: Cinderella, Snow White, Rapuntzel, dll. Cerita dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berhubungan dengan produk emeron

· Rambutku sehitam kopi

· Rambut yang menyala dimalam hari

· Agen Rahasia dengan rambut serba hitam

· Panda yang menghilangkan bulu putihnya

· Hitam tanpa mantera

· Emeron dan kuas yang menorehkan rambut hitam yang berkilau

Lalu saya melakukan sketching untuk memperoleh visualisasi yang pas dari ide2 yang telah saya tulis diatas, seperti berikut…










Ide yang terpilih adalah ide “Hitam tanpa Mantera” dan sesegera mungkin saya melakukan proses digital..inilah rough designnya…


Dengan berbagai macam perubahan..ini lah comprehensive design yang akhirnya saya eksekusi menjadi billboardnya


Dan ini contoh ketika diaplikasikan dalam bentuk billboard…



Yay! Semoga nilai terbaik untuk kerja keras ini..hehe..lanjut untuk tugas TVC!!!

Minggu, 27 September 2009

late upload for final brochure


berikut adalah final design dari brosur2 ITS yang saya kumpulkan..
jujur saya sangat tidak menikmati tugas ini... seharusnya saya tidak terjebak dalam mencari imagery terlebih dahulu..sungguh, pengalaman ini takkan kulupa untuk tugas kedepannya..
Untuk hasilny....well, saya tidak puas...bener2 tidak puas... that's just not me..hehe

well, cukup untuk sesi curhatnya...
beginilah begundal2 yang saya kumpulkan

Kamis, 10 September 2009

rough...rough... (anjing menyalak)

setelah ditimpa musibah yang mengakibatkan saya tuli sebelah (semoga saja untuk sementara waktu), akhirnya terselesaikanlah rough design saya yg tertunda..
dengan berat hati saya harus mengassistensikannya secara onlen..hff..kan malluuuuuxxx...
yep, here it is...
pertamax...


keduax..


ketigax...



keempax


kelimax


oke...kurang lebih seperti itu...untuk pembeda antara fakultas saya menggunakan warna..
ftsp : hitam
fti : merah
fmipa : hijau
ftif : abu2
ftk : biru muda

dan dengan demikian, saya berharap akan terpilih 1 layout yg akan dieksekusi dengan sebaik2nya... Aplus!

nb. dari rough diatas ada beberapa imagery yg belum saya dapatkan jd ada yg terkesan " kok gak cocok!, kok ngene?, loh?!, dll..." faktor tersebut murni karena belum mendapat imagery yg tepat dan sedang diusahakan...

CIao!!!

Minggu, 06 September 2009

curhat!!

pada hari sabtu tgl 5 sept'09, pada akhirnya setelah percekcokan batin yang berbelit-belit dan kesibukan laen.., saya, khairil, arif dan uud memutuskan untuk melakukan tour de ITS, hunting bareng imagery content buat brosur...
Tapi ternyata tour de ITS ini sangat tidak efisien dan membuang waktu juga tenaga...
ITS membara bung, seperti padang pasir... panas, berdebu...wes elek thok pokoke..
untunglah saya dan teman2 tidak tergoda untuk melakukan mokel berjamaah..haha

imagery yg berhasil saya dapatkan sangat minim sekali, tapi letih yg dirasakan sangat pertamax!! hmm, bakal ngebut lagi buat nyari imagery buat semua jurusan ini sepertinya...hehe..
UU, YEAH!!!

the 20th....century boys...


berikut adalah assistensi thumbnail saya yg sejumlah 20 buah..
saya melakukan assistensi dengan p. ramok di hari rabu yg terik tepatnya bertanggal 2 september..
Pertama2 saya membeberkan semua masterplan buat tugas ini..
konsep2nya tertera pada postingan sebelumnya

so here's my 20th...century boys...


yep... yg paling kabur itu gambarnya yg keterima...
selanjutnya adalah rough design!!! hoah...harus udah digital
berarti harus segera nyari imagery yg pas buat content brosurnya...huff imagery seluruh jurusan lo...
wes rok en rol ae lah....

Sabtu, 05 September 2009

ngebut! lagi!

Oke.. mari kita lanjutkan pekerjaan kita di tugas pertama ini…

Diketahui bahwa konsumen terbesar untuk brosur2 ITS adalah dari calon mahasiswa baru, serta orang tuanya. Maka dengan argumem tersenut, maka saya menetapkan target audiens brosur ini adalah dari Anak SMA, dan orang tua dari anak tersebut.

Melalui proses eksisting dari brosur2 ITS yang sudah ada dan juga komparasi dengan brosur2 perguruan tinggi lain, dapat saya ambil kesimpulan mengenai permasalahan umum yang kita hadapi..

1. TIdak adanya system grafis yang mampu mengikat antar brosur ITS satu dengan lainnya, hal ini dikarenakan setiap jurusan menerbitakan brosur dengan versinya sendiri2, tanpa berkoordinasi dengan jurusan2 lain di ITS

2. Terlalu banyak informasi yang disampaikan dalam satu brosur, namun informasi2 tersebut belum tantu dibutuhkan oleh target audiens

3. Estetika (unsur2 grafis) dan system layout serta hirarki yang kurang dapat mempresentasikan komitmen dan kredibilitas ITS pada umumnya dan setiap jurusan/UPT pada khususnya

4. Dalam brosur2 yg sudah ada kurang memberikan wacana pada audiens, “Mengapa harus memilih ITS untuk melanjutkan jenjang pendidikan sarjana?” dan “Apa yg membedakan(keunggulan) jurusan2 di ITS dengan jurusan2 serupa di Perguruan TInggi Lain?”

Dari permasalahan umum tersebut, Saya jadikan acuan dalam perancangan dan content dari brosur ini (What to Say), antara lain..

Content : 1. Perkenalan (mukadimah) singkat untuk tiap fakultas dan jurusan yang ada di ITS. Mungkin dengan penjelasan fasilitas tiap jurusan (masih diragukan rating kepentingannya)

2. Pemberian wacana singkat yang mampu mempengaruhi keputusan audiens memilih ITS sebagai Perguruan TInggi tujuan untuk melanjutkan strata pendidikan sarjana. Lalu apa wacana itu? Melalui studi literature serta riset kecil2an yang saya lakukan, saya menemukan sebuah fakta fenomena yang sangat tragis terhadap pendidikan di Indonesia. Fakta2 tersebut antara lain..

a. Tingkat pendidikan di Indonesia dari segi mutu maupun relevansi pendidikan masih rendah, bahkan dari segi jumlah mahasiswa di Indonesia masih sangat sedikit. Terbukti bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi hanya 11,9 persen, dibanding jumlah mahasiswa dengan jumlah penduduk usia 19-24 tahun. persentase itu tergolong kecil di dunia. Sebagai perbandingan, di Filipina angka APK mencapai 33 persen dan Jepang 50 persen. Jumlah APK yang kecil itu menyebabkan Indonesia belum punya tenaga kerja berpendidikan tinggi dalam jumlah memadai. Saat ini, hanya satu persen sarjana masuk ke bursa kerja. , kata Dirjen Pendidikan Tinggi Prof Dr Satrio B Brodjonegoro.

~dikutip dari http://www.suarapembaruan.com/News/2001/09/21/index.html

b. Jumlah tenaga kerja sarjana di Indonesia masih relatif kecil dari jumlah penduduk. Persentase penduduk yang pernah mengecap perguruan tinggi hanya sekitar 5,5 persen dari jumlah angkatan kerja. Namun demikian, pengangguran tingkat sarjana relatif tinggi. Ini sebuah ironi. Data Sakernas (Survey Angkatan Kerja Nasional, BPS) per Februari 2007 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka dari kalangan perguruan tinggi mencapai 740.206 orang atau setara dengan 7,02 persen dari angkatan kerja tahun 2007. Tingkat pengangguran tenaga terdidik sedikit lebih rendah dari tingkat pengangguran secara nasional yang mencapai 11,8 persen. Pada Bulan Agustus 2006, tingkat pengangguran kalangan terdidik hanya 6,16 persen. Itu berarti dalam setahun terakhir, pengangguran terdidik bertambah sebanyak 66.578 orang. Setiap tahun, antrian pengannguran semakin panjang oleh sarjana yang baru lulus.

~dikutip dari http://www.hamsarlubis.blogspot.com

c. “Makin tinggi tingkat pendidikan ternyata tidak mencerminkan kepercayaan diri tenaga kerja di Indonesia. Fenomena menarik, justru yang tidak tamat SD namun bisa membuat usaha sendiri dan mempekerjakan orang lain mencapai sekitar 15 persen. Sementara lulusan sarjana yang bisa melakukan hal serupa hanya 3,2 persen. Sekitar 83 persen lulusan sarjana hanya menjadi buruh atau karyawan,” kata staf ahli Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Yudil Chatim

~dikutip dari http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/item/311/Pendidikan_Indonesia_Sebatas_Cetak_Buruh_

Fenomena-fenomena tersebut bertepatan dengan issue technopreunership yang digembar-gemborkan ITS akhir-akhir ini. Jadi, saya berencana untuk menjadikan issue technopreunership sebagai issue global ITS, sebuah wacana yang memberikan wawasan pada audiens bahwa Indonesia membutuhkan lulusan2 yang mandiri, dan ITS siap untuk itu.

3. Prospek kerja, serta kompetensi lulusan dari tiap jurusan.

Setelah menyusun content yang akan disajikan, saya merancang bagaimana cara menyampaikannya (How to say), yaitu antara lain…

1. Memberikan fakta yang kongkrit tentang fenomena2 yang saya temukan diatas + image visual yang mampu merepresentasikan keadaan tersebut (fotografi/ilustrasi)

2. Memberikan experience pada audiens dengan menyajikan desain bentuk yang unconventional, dinamis dan modern sehingga mampu membangun citra ITS lebih baik

3. Membuat brosur berseri ( per fakultas) yang memiliki system grafis yang sama, sehingga memberikan kesan professional, bold, dan mampu menarik minat audiens untuk membaca (sukur2 dikoleksi)

yep...next post bakal bercerita tentang assitensi 20 thumbnail saya..hoho

Senin, 31 Agustus 2009

Ngebut!


Wow! sungguh terperangah melihat teman2 yg sangat cepat progressnya
oke2...
setelah berhasil menarik kesimpulan dari post yg selanjutnya, saya berencana untuk mengarahkan brosur ini bukan hanya dapat sekedar dibaca (dinikmati indera penglihatan .red) namun juga dapat dinikmati oleh sentuhan (indera peraba red.) a.k.a tangan sehingga mampu memberikan experience yang berbeda pada audiens..

oke sementara itu, mari kita tilik hasil brain storming yg saya lakukan..
sebenernya entahlah, saya sedikit merasa buntu da
lam pembuatan brain storming ini..


brainstorming diatas merupakan brainstorming awal saya, tentang kemungkinan2 info yang dapat di jejalkan dalam brosur..gak banyak cabang si, soalnya buntu.
wah, bag.atas ngeblur yah? saya aplot lagi dah.. nih..


disitu saya mencoba meyakinkan saya sendiri bahwa tujuan dari dibuatnya brosur adalah untuk menginformasikan
dari situ saya cabang lagi, audiens terbagi menjadi 2, yaitu org yg butuh informasi dan satu lagi yg tidak membutuhkannya...
nah, yoopo carane... saya harus mampu untuk membuat org yang tidak butuh informasi, jadi tertarik dan respect dengan informasi yang ditampilkan...

ada, sebuah kata2 bijak... "..kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda..."
menurut saya memang benar adanya..
jadi untuk menghindari brosur yang dicetak dan dibagikan berakhir di tempat sampah, maka..
mensana en korpore sano...didalam kulit yang menarik terdapat informasi yang berbobot pula..

hehe, akhirnya balik lagi deh ke poin experience posting sebelumnya..

lalu ini brainstorming kedua saya...yang tidak kalah buntunya..


there you go... karena merasa pelik terhadap brainstorming pertama, saya menggunakan 5W + 1H untuk memancing ide dan wacana tugas kali ini..berikut lebih lengkapnya..
  • who > yang membaca > 1. orang tua, 2. SMA
  • when > kapan membaca > 1. pada saat itu juga (ketika dibagikan), 2. ketika waktu senggang (setelah koleksi brosur)
  • where > dimana membaca > 1. dirumah, 2. tempat pembagian brosur
  • what > apa yang dibaca > 1. tentang ITS, 2. sejarah ITS, 3. fakultas dan jurusan, 4. UKM, 5. potensi sumber daya, 6. desain dan bentuknya
  • why > Mengapa dibaca > 1. butuh informasi, 2. tertarik desain yang bagus, 3. koleksi
  • how > bagaimana membacanya > 1. mengedukasi, 2. memberikan pengalaman langsung kepada audiens
ahh...iku sek aelah...ntar tak sambung lg..

Minggu, 30 Agustus 2009

fasten your seatbelt, start your engine..

first task. (oh, why we can't live without it...)

Tugas pertama yang kelas kami terima adalah..
STRATEGI & PERENCANAAN MEDIA chapter1 : Printed Media

Alkisah disebutkan bahwa media yang akan tereksekusi adalah brosur, dan subjek isinya adalah ITS. Betapa gundah gulana nian kemarilah saya, karena...that's the brief...yes, just that..
Mahasiswa dibebaskan untuk memilih issue sebebas-bebasnya, koridornya jelas ITS...
jadi, kalo kita bikin brosur tentang teknik sipil Unair, betapa nistalah kehidupan kita..karena memang gak ada..haha

Lalu untuk lebih memahami tentang Brosur/Brochure, saya melakukan sedikit research, yah..sapa lagi kalo bukan mbah Google, tempat untuk bertanya..

Media Cetak (Printed Media)
Adalah meliputi segala barang yang dicetak yang ditujukan untuk menyebarluaskan pesan – pesan komunikasi. Media cetak sendiri pengertiannya adalah media statis yang mengutamakan pesan visual yang terdiri dari lembaran, sejumlah kata gambar atau foto.

The printed page sebagai media penyampai pesan yang berujud cetak punya beberapa kelemahan antara lain :

1. The printed page tidak mempunyai suara , jadi tidak bisa menimbulkan kesan akrab sehingga kurang mampu menggugah emosi.

2. Yang bisa dicapai oleh printed page hanyalah mereka yang bisa membaca, bahkan dalam printed tertentu pembacanya adalah orang – orang yang berpendidikan.

3. Karena printed page dicetak, maka printed page menghendaki untuk dibaca.

4. Jika radio, TV dan sebagainya bisa dinikmati oleh dua orang atau lebih secara bersama – sama, maka pada printed page, hal ini kurang leluasa untuk dilakukan.


Kata orang sih, nobody's perfect..begitu juga dengan media cetak. Beberapa kekurangan diataslah yang akhirnya mendorong insan2 pengiklan untuk meracik kata demi kata, bait demi bait serta imagery atau visual yang ditampilkan pada printed media, sehingga diharapkan audience tertarik dan terpengaruhi lalu berbuat sesuai dengan apa yang diinginkan produsen barang dan jasa.

Meskipun memiliki kelemahan, namun media cetak juga memiliki kelebihan yang secara umum meliputi :

1. Media cetak terdokumentasi ; bisa disimpan atau dicollect isi informasinya

2. Media cetak lebih terjangkau dari segi harga maupun distribusinya

3. Media cetak lebih mampu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat kompleks atau rigid

Enough with printed media, let's talk about brochure..

Menurut definisi UNESCO, brosur adalah terbitan tidak berkala yang tidak dijilid keras, lengkap (dalam satu kali terbitan), memiliki paling sedikit 5 halaman tetapi tidak lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan sampul.

~ Bentuk dan isi

Bila terdiri dari satu halaman, brosur atau pamflet umumnya dicetak pada kedua sisi, dan dilipat dengan pola lipatan tertentu hingga membentuk sejumlah panel yang terpisah. Pamflet yang hanya terdiri dari satu lembar/halaman sering disebut selebaran (bahasa Inggris: leaflet, flier, atau flyer). Selain itu, brosur yang memuat informasi tentang produk disebut juga sebagai katalog produk atau sering hanya disebut katalog.

Brosur atau pamflet memuat informasi atau penjelasan tentang suatu produk, layanan, fasilitas umum, profil perusahaan, sekolah, atau dimaksudkan sebagai sarana beriklan. Informasi dalam brosur ditulis dalam bahasa yang ringkas, dan dimaksudkan mudah dipahami dalam waktu singkat. Brosur juga didesain agar menarik perhatian, dan dicetak di atas kertas yang baik dalam usaha membangun citra yang baik terhadap layanan atau produk tersebut.


Nah, kalo mengunduh-unduh sesuka hati sepertinya tindakan kriminal, maka i came up with my own conclusion...
hmm, sudah tau klo printed media itu sangat terbatas di aspek emosi, maka sebagai insan desain yang budiman, kita harus mampu memberikan emosi pada setiap printed media karya kita. kita harus mampu men-'touch' dan membuat audiens turut ber-'experience'
(alay sekali ya, saya mencampur b.ind dgn b.ing)
Jadi itu sebuah poin catatan untuk eksekusi tugas brosur ini..
experience

Rabu, 26 Agustus 2009

first post!!!!



halo, saya eka pramudita...
mahasiswa DKV ITS angkatan 2007
berkumis dan berjenggot...
tak pernah menyisir rambut dan memakai kutang..
selalu memakai boxer dan jeans berwarna hitam..
sangat addicted dengan korek kuping..
peranakan china-jawa yang elegan
mampu membaca dan menulis..
bahasa ibu yang digunakan adalah bahasa indonesia..
menguasai 3 bahasa, Indonesia, Jawa, dan Inggris-Indonesia
Berbudi pekerti yang baek..
Polos.. tapi bukan berarti bakso
ada bakso polos, kasar, kotak, dan telur puyuh
gak pake sambel dan kuah encer..
lengkap dengan kecap dan lontong..

hufh, begitulah profil saya yang menggelegar dan membahana
hingga ke penjuru pelosok gorong-gorong Tiongkok

Akhir kata yang merupakan awal,
Semoga Tuhan memberkati kita semua dan melancarkan perkuliahan saya pada khususnya...
Mata kuliah DKV3 ini..